Akhir Ironi Seorang Content Creator
Yang niat awalnya buat seru seruan. Sekarang jadi bikin stress.
Yang awalnya dulu nggak peduli sama angka. Sekarang jadi penghamba angka.
Pengepul LIKE, COMMENT, SHARE, demi menambah timbunan angka lainnya.
ini adalah perang batin yang berkepanjangan.
algoritma makin lama makin manja.
audience makin picky.
Dan kita? Makin susah nikmatin hidup tanpa mikir: ‘ini bisa jadi konten nggak ya?’
Buka Instagram bukan lagi buat scroll santai.
Tapi buat liat: “Eh, transisi dia cakep juga. Ini kayaknya bisa gue contek tapi dibikin lebih satir.”
Buka TikTok bukan lagi buat ketawa.
Tapi mikir: “SFX-nya dia dapet dari mana ya? Kenapa gue belum nemu beat kayak gini?”
Akhirnya, semua yang dulu jadi tempat hiburan, sekarang jadi tempat kerja versi neraka kecil.
Lagi nongkrong sama temen, suasana seru:
“Eh, ini bisa jadi konten nih.”
Lagi nonton film, momen emosional:
“Wah ini bisa gue jadiin analogi buat caption nanti.”
Lagi bengong di kamar:
“SFX… SFX apa ya buat suara orang mikir…”
Gila.
Nggak ada lagi ruang kosong di kepala.
Yang ada cuma split screen antara kehidupan nyata dan potensi konten darinya.
Bahkan, sedih pun kadang nggak bisa jujur. Soalnya dalam hati suka muncul: “Kalau gue record pas nangis... masukin musik sedih… bisa viral nggak ya?”
Apa nggak ngeri?
Sosial media yang dulunya kayak taman bermain, sekarang berubah jadi pabrik stres.
Bukan karena kita nggak bersyukur. Tapi karena semua jadi konten, dan hidup jadi bahan bakar.
Kalau nggak produksi, ya mati.
Dan kadang, yang paling bikin sesak:
Kita mulai lupa caranya bersosial media sebagai manusia.
Karena kita terlalu lama menggunakannya sebagai mesin.

Komentar
Posting Komentar